MasIrfun
MasIrfun Seorang blogger pemula yang ingin memberikan informasi, edukasi, dan review gadget terupdate

350+ Puisi Rindu Singkat Dalam Diam Romantis Buat Pasangan LDR

MasIrfun.com - Puisi Rindu Singkat - Kumpulan puisi rindu singkat dan romantis ini berisi puisi cinta terbaik yang MasIrfun buat untuk kamu yang sedang mencintai dalam diam. Puisi cinta tak hanya sebagai salah satu bagian dari kekayaan kesusastraan dalam negeri ini, tapi kini telah menjadi wadah untuk meluapkan emosi jiwa, ungkapan hati dan perasaan yang terpendam, tak bisa tersampaikan secara langsung.



Apakah kamu termasuk orang yang suka menyembunyikan perasaan kepada orang lain? kemungkinan besar iya. Benar, kan? Puisi cinta pendek atau puisi romantis dibawah ini bisa kamu gunakan untuk mewakili perasaanmu. Tenang, kamu tidak sendiri. Terkadang seseorang perlu meminjam kata-kata orang lain untuk menggambarkan suasana hati yang sedang dialami.

Yuk, simak puisi rindu singkat yang MasIrfun sajikan yang bakal bikin kamu baper !

Puisi Rindu Singkat Dalam Diam Romantis Buat Pasangan LDR



Puisi Rindu Singkat yang masirfun sajikan kali ini tidak hanya puisi saja, melainkan kata-kata yang bikin kamu bakal kebaperan. Bisa di bilang quotes yang dapat kamu buat story atau menyinggung perasaan yang kamu sukai. Apalagi kamu mengagumi dalam diam ? Inilah puisi singkat dalam diam yang romantis cocok untuk pasanganmu !

Puisi Rindu

Aku Rindu

Setiap malam tidurku yang panjang
Dirimu menjelma sebagai akar dari saraf
Menjamah seluruh isi kepalaku
Merasuk kedalam pikiran yang kelabu

Setiap pagi bangunku yang singkat
Dirimu menjelma sebagai kicauan burung
Menyapa manis dibawah rindang pohon
Yang memaki sanubari akan kamu

Tak kah kau rasakan bahwa aku kangen
Melihat paras wajahmu juga raut senyummu
Karena raga dan hati saling terpisah
Dan aku tak bisa memusnahkan jarak yang berkuasa

Sayang aku rindu

Sayang…
Kaulah seseorang yang kuinginkan
Tatapanmu….Senyumanmu…
Sayang…
Dengarkanlah aku disini..
Aku disini menantikanmu..
Menunggumu… Tuk cintamu..
Meski kita terpisahk jarak & waktu
Tapi rasa sayang & cintaku hanyalah untukmu..
Meski kau kini tak lagi di sisi..
Tapi kehadiranmu selalu ku nanti..
I LOVE YOU
Kehampaan

Hampa terasa diri ini tanpamu
Hanya bayanganmu yang menyelimuti kalbuku
Sampai sampai mataharipun ikut meredupkan cahayanya
Jujur saat ini, esok dan selamanya
Aku tak bisa hidup tanpamu

Resah, gelisah, dan gundah
Selalu
Kuhadapi disetiap harinya
Ingin membuang semua kenangan yang ada
Tetapi itu semua sangatlah susah

Rasa hati yang berkecamuk di tubuh ini
Ingin memberontak tuk melupakan hal-hal yang pernah terjadi
Seperti halnya hujan menitihkan airnya ke dedaunan
Lalu pergi dan meninggalkan semua kenangan

Disaat inilah diri ini merasa kehampaan
Hidup yang tak punya tujuan
Dan raga yang tlah mati akan kehilangan
Terima kasihku padamu tlah mengajarkan diri ini artinya kehampaan
Oleh : M’sa

Kesunyian Malam

Pendar cahaya perlahan menghilang
Jatuh aku dalam kegelapan
Kau yang ku harapkan datang
Menghias malam sunyi kesepian

Sunyipun telah tiba
Tapi kau tak kunjung datang
Membuatku terjerumus dalam
Kesunyian malam
Yang sedalam-dalamnya

Dan sedalam-dalamnya kesunyian malam
Setidaknya mampu untuk mengatasi kesunyian
Atas rindu yang berkecamuk

Di sini ku berselimut kelam dan sunyi
Hanya berteman sepi sendiri
Tiadakah kau iba padaku kini
Aku layaknya unggun kehilangan api

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Disekap akar pohon bunga itu
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Takkan Terganti

Semua yang kukira indah
Menjelma menjadi kelabu
Awal yang kukira mutlak seakan lepas
Menjadi kilauan masa lalu

Sesuatu yang kukira terjadi
Takkan pernah kembali
Sampai tersadar bahwa kamu
Takkan pernah terganti

Kutitip Rindu pada Senja

Kepadamu yang telah pergi
Telah kutitip rindu pada langit senja yang seteduh matamu
Pandangilah merah, jingganya, hingga rindu yang hangat itu
Merasuk kedalam cakrawala hatimu

Layaknya gelap dan terang yang bertemu dikala senja
Pertemuan kita yang singkat namun indah itu
Takkan pernah ku lupa
Segala kenangan telah tersimpan dalam relung jiwa
Biar kumiliki hingga senja tak lagi ada

Satu hal yang perlu kau tahu
Perihal melupakanmu, aku tak mampu
Karena ingatan tentangmu serupa sang mentari
Walau ia terbenam hari ini
Ia akan datang lagi dikeesokan harinya
Oleh : Vinca Virgina

Merindukan Mu

Kudengar suara mungilmu
Ku ingat senyuman manjamu
Dan ku bawa bayanganmu ke dalam pikiranku

Lintas imaji ku terdiam
Bak, sebuah perahu yang telah karam
Rindu ini yang semakin dalam
Bak deras gelombang yang kian mencekam

Merindukan adalah hal tersulit bagiku
Karena namamu telah terlukis dihatiku
Meskipun perasaan ini ingin mengadu
Tetapi jiwa dan raga ini selalu menunggu

Masa Yang Ditetapkan

Masa seolah-oleh telah berakhir,
Aku tahu akhirnya,
Aku duduk pada masa yang telah dilalui,
Melaluinya dengan merindui masa yang dah berlalu,
Untuk menghargainya berjumpa dengan orang yang paling aku sayang,
Akan merinduinya dipersimpangan masa saat jalan sendirian..
Kau Masa Lalu

Ibarat mata memandang
Ilusi fatamorgana
Bintang terang dibalik mendung awan
Rembulan menyapa hati dilema

Masa laluku
Kau hadir dalam ingatan
Memnaggil luka menyinggung derita
Mengundang asa juga rasa

Masa laluku
Daku tiada mampu tuk menahan
Tentangmu enggan hilang
Melekat erat dalam ingatan

Masa laluku
Kau pernah kusemogakan
Sebelum terkubur bersama waktu

Rindu Semu

Bahwa pada sang malam
Aku ingin bercerita
Tentang perkara “rasa”
Sudikah kau lebarkan telingamu
Dengarlah..

Gemuruh dadaku yang suaranya mirip kehancuran
Coba kau intip
Ada genangan air mata yang terus mengalir
Pada secawan rindu yang lalu tumpah dimeja
Ada rasa yang mengalir larut pada keresahan

Terlebih saat kupandangimu bintang
Bercumbu pada sang rembulan
Gemeretak bunyi hatiku patah
Remuk oleh gumpalan kecewa

Kau tahu kenapa?
Sebab rindu yang menggebu
Sebatas semu

Bella

Saat waktu membawamu hadir
Adalah awal rasa cinta ini lahir
Disaat aku belum sembuh dari luka
Engkau datang menawarkan cinta

Waktu berputar begitu cepat
Engkaupun perlahan ragu
Ku tahu cintaku sudah terlambat
Karena ada dia yang mencintaimu

Meskipun cintaku tak berbalas
Namun rindu ini tak bisa lepas
Engkau mungkin telah pergi
Tapi cinta ini abadi

Puisi Rindu ke-15

 Pagi ini sedikit rintik oleh mendungnya hati
Kuracik kopi dan rindu hingga menusuk sanubari
Pandang kosong tersesat oleh kata hingga makna
Engkau kah akhir kutujukan jiwa
Ataukah berakhir pilu di simpang asa

Kopi pagi ini tak semanis kemarin pagi
Oleh rasa yang kian lelap termakan masa
Ku coba ulangi racikan kopi dan cinta
Tuk sempurnakan tanya
Adakah benar kau mencintaiku sahaja

Semakin ku racik kopi dan rindu
Haruskah kutiadakan keduanya itu ?
Oleh kopi yang hilang pahitnya ?
Atau oleh rindu yang hilang laranya

Kusedup kopi pagi ini
Kuracik dengan sebuah mimpi
Agar dapat kuseruput rindu darimu
Agar cinta ini abadi teruntukmu
Oleh : AW Effendi

 Rindu

Malam ini sunyi kembali memanggil
Dalam gelapnya sepi, aku menguntai rindu
Tanpa tuan, dia selalu mengganggu ku
Demi hal yang masih tabuh
Aku hendak berlabu walau hati berkabut

Jiwa ini mematung bersama aksara semu
Keheningan lalu membawa sendu
Dimana hati selalu bertanya jauh
Sejauh kedalam rindu

Kini semua menjadi tak menentu
Ketika jawab tak bertemu
Akulah sendu dalam kelambu rindu

Puisi Rindu ke-19

Aku rindu dengan seseorang
Yang membuatku rindu
Kau menciptakan kenangan yang
Kini aku kenang
Mengisi waktuku hingga aku lupa waktu

Senyummu membuatku tersenyum
Kebersamaan kita jalani berdua
Bersamaan
Hari berakhir yang sungguh aku
Harap takkan berakhir

Bila kita bertemu, mau kah kau
Menjadi kekasih yang akhirnya aku temukan?

Magnet Rindu

Hujan menyapaku sore ini
Membawa sebungkus rindu yang masih baru
Dari siapa? Mungkinkah kamu?
Aku tak pernah meminta untuk merindumu
Tapi hujan mengirim pesan rindu darimu
Aku bisa melihatmu, berada didepanmu
Bahkan dalam jarak yang sangat dekat
Tapi kita seperti tak saling kenal, aneh ya

Gravitasi kita tak lagi menyatu seperti dulu
Menghilang bersama waktu
Dan rasanya seperti magnet
Menarik rindu saat dipisahkan jarak
Maka rasa itu akan selalu ku sebut
Magnet rindu

Salam

salam-salam ku kirimkan dari sudut kota,
untukmu, pria berwajah dingin namun menghangatkan
aku titip salam untuk mama mu,
agar mengingatkan mu makan teratur
dan jangan terlalu larut dalam perkemahan
nanti kamu rindu aku,
senja di penghujung hari
jaga dirimu baik-baik.

Puisi Rinduku

Dini hari semakin dekat
Petang masih lekat
Legam rindu masih kugenggam
Kenangan tentangmu di kepala berkelebat
Makin beragam

Dirimu yang terbayang tak kunjung hilang
Membunuh bersama bayang-bayang yang tak pernah lekang
Tak jua hadir dalam untai-untai angin malam
Yang tak kunjung hadir dalam kenyataan

Aku masih mencoba meramu malam
Tanpa meracaukan kamu, sayang
Rindu tahu jalan kan?
Pulanglah kepadaku
Aku akan menyambutmu dengan seluruh ragaku

Rindu

Kau remas hatiku
Saat hasrat ingin bertemu
Rasa ini memang sulit bagiku
Rindu ini memang tak bisa ku
Sembunyikan darimu

Karena..
Ku tak ingin terlalu lama menunggu
Aku sangat merindukanmu
Aku sangat menantikan kehadiranmu
Kumohon
Jangan biarkan rindu mengikis
Jangan biarkan diri ini menangis
Oleh : Abdul Zaelani

Rindu Saat Bersamamu

Bukan maksudku untuk
Memenjarakan bebasmu
Namun memberi kabar dimana pijakmu
Adalah pelerai bagi gundahku

Sungguh..
Yang ku inginkan hanyalah senyummu
Yang ku nantikan hanyalah tawamu
Ku rindu saat saat bersamamu
Mengisi waktu yang tak menentu

Ku harap kau mengerti
Karena rasa dan cintamu begitu berarti
Ku mohon tetaplah temani
Raga dan hati yang telah kau miliki
Oleh : Abdul Zaelani

Puisi Rindu

Bisikanmu adalah fajar yang membangun pagi
Pelukanmu menghangatkan hari terangi duniaku
Ciumanmu mengantarkanku ke penghujung senja
Perhatianmu menyelimuti malamku hingga kuterlelap

Setiap kata terucap
Sejuta kenyamanan kudengar
Tak pernah lelah menggenggamku
Menuntun kemanapun angin berhembus

Kau adalah aku yang tercipta di sisi lain
Kamu adalah aku yang menyempurnakan kekosongan ini

Kamu dan aku adalah saling
Kamu bagiku adalah harapan

Sekalipun malam menunggu pagi
Meskipun siang menunggu senja

Jarak pun menyerah pada kenyataan
Resah pun pergi dengan sendirinya
Yang tersisa hanya rindu
Rindu yang menggebu

Basah Air Hujan

Dia tetap jatuh walaupun sakit
Dia tetap turun meski dibenci
Basahnya penuh dengan kenangan
Tetesannya penuh dengan kerinduan

Dia datang bukan untuk merusak
Dia datang untuk orang yang merindukan
Dan mencintai
Dengan rasa bahagia hujan dihadirkan

Kau tahu kenapa air itu turun
Karena hujan pun tahu
Ku merindukan dekap pelukmu kekasih

Puisi Tentang Rindu

Aku tak pandai berkata
Aku hanya pandai menulis bingkaian kata
Itupun tanpa makna

Aku sudah menyangka, jika dia tak akan percaya
Bahwa hatiku masih berdebar kala menatapnya

Tidak tuhan,
Aku sudah berjanji padanya
Untuk tidak lagi mengganggu hidupnya

Karna ku yakini mencintanya
Tak harus bertegur sapa atau berjalan bersama

Ia sudah bahagia
Biar ku cari bahagia ku juga
Dengan memandangnya tersenyum dan juga tertawa
Meski bukan aku lagi yang dilihatnya
Oleh : Putri Ina Ayu

Setitik Rindu

Sejak setitik rindu terpisahkan koma
Puing kerapuhan mampu bertahan pada jiwa
Sedemikian sesal yang membawa arti
Namun hujan tetap menyakiti

Hingga tanah tersadar dahsyatnya hujan
Perih penantian telah di ujung kebahagiaan
Sejak setitik rindu terpisahkan koma
Puing kerapuhan tenggelam dalam ruang kerinduan
Oleh : Ningrum S

Merindukanmu

Aku merindukanmu
Setabah bunga-bunga
Menanti kupu-kupu

Setegar pelangi menunggu hujan
Setulus bintang-bintang
Pada malam
Dan sedalam lautan menyimpan mutiara

Maka aku akan tetap disini
Menyirami cinta dengan mata air rindu
Menunggumu tanpa ragu

Rindu

Malam tak selalu kelam, tak melulu tentang sepi
Juga mengingatkanmu, betapa ajaibnya dirimu
Yang tak bosan berhasil membuatku merindu
Rindu yang membawa resah

Disetiap tetesnya jatuh, kutitipkan sebuah nama
Pada kata yang terucap
Di sepertiga malam terakhir
Bibir yang juga berhasil dibuat tersenyum saat merindu

Sekali lagi, hanya malam
Waktu dimana aku dan tuhan membicarakanmu
Satu nama, Cinta
Oleh : Alya Siregar

Rindu Bunda

Di punggungmu ku bersandar dari rasa lelahku
Di pelukanmu ku berbaring dari rasa sesalku
Telah jauh jarak yang memisahkan kita
Membentang kerinduan di dalam hati

Aku merindukanmu bunda
Telah kucoba mengumpulkan keindahan dunia
Untuk ganti kehadiranmu
Telah kucoba mencari yang terbaik
Untuk mengisi kerinduanku
Namun semua itu tiada guna
Karena kau tidak bisa tergantikan juga

Aku merindukanmu bunda
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Dunia takkan bisa mengusikmu
Hanya kau bunda yang selalu didalam hatiku
Hanya kau bunda yang selalu ada di dalam kepalaku

Aku merindukanmu bunda
Dunia pun tidak berarti dengankehadiranmu
Dunia tidak bisa menopang hati
Dan luasnya kasih sayangmu
Karena kau lah yang memperintah hidupku
Begitu indah setiap detik dalam pelukanmu
Begitu indah setiap detik di dalam pangkuanmu

Aku merindukanmu bunda
Rasa rinduku padamu takkan bisa dikalahkan waktu
Rasa sayangku padamu tidak akan bisa dikalahkan jarak
Aku akan menemuimu
Segera setelah menyelesaikan tugas-tugasku
Oleh : V.F

Rindu dan Kenangan

Rindu dan Kenangan
Wahai tuan kelabu..
Masih ingatkah dengan nona hujan?
Yang selalu terucap dalam candamu
Membuat seisi semesta dan hati ini nyaman

Aku merindukanmu..
Ketika bahumu menjadi sebuah sandaran
Ketika aku membutuhkanmu menghapus pilu
Kamu akan bersikap begitu menenangkan

Tuan kelabu, kenapa pergi semudah itu?
Sikapmu jadi sangat membingungkan
Aku si nona hujan hanya bisa terpaku
Ketika mengingat
Kita sudah menjadi “mantan”

Mantan yang tidak bisa lagi bersatu
Dan akan kusimpan dalam sekeping kenangan
Oleh : Intan Sari

Alam dan Firasatnya

Firasat mungkin sekiranya adalah sebuah pertanda.
Bagaimana alam mencoba terus untuk berbahasa.
Mengirimkan tandanya lewat sekelebat halimun.
Kemudian larut menjadi tetes-tetes air hujan.

Dan bila sekiranya kita tak lagi mampu memahami,
Pesan apa yang terpahat pada ranting-ranting pepohonan.
Dan bisikan apa yang tercipta dibalik riuh angin yang bertiupan.
Sudakah alam kembali berdusta lewat pertandanya?

Puisi untuk pasangan LDR (Long Distance Relationship) 


Hampa

Disaat malam datang menjelang
Hanya sinar rembulan tanpa bintang
Diriku duduk terdiam dan merenungi
Berharap engkau datang kembali

Sejenak diri ini memanggil nama mu
Sejenak diri ini mengingat bayangmu
Tapi apa daya engkau jauh disana
Ingin ku raih dan ku genggam ternyata hanya sia sia

Hampa. Hampa. Dan selalu hampa
Selalu jiwa raga ini kian terasa
Bibir ini pun tak dapat berbicara
Hanya dengan doa diriku bisa menyampaikan segala lara

Penantian

Terngiang akan kejadian masa lampau
Disaat kau pamit akan pergi merantau
Bulir air mata jatuh dipipiku
Bibir sontak terdiam kaku

Raga ini separuh melayang berdiri di depanmu
Hasrat hati ingin bersamamu selalu
Tangan lembutmu mengusap pipiku
Pelukan terakhir sebagai tanda kasihmu

Pergilah demi masa depanmu
Dermaga perpisahan ini saksi bisu penantianku
Ku kan setia menantimu disini kekasihku
Di dermaga di bawah naungan langit biru

Terbebas Rinduku Bersama Neng Bella

Bang, setelah lama aku terpuruk dalam beratnya rindu
Berteman bersama sunyi
Dan cukup lama untuk melawan berdiri sendiri
Kini kau bebaskan rinduku tuk
Bertemu denganmu
Rinduku sudah terbayar dengan pertemuan ini
Neng yang terkasih, ingatlah aku dan
Jangan menghianati aku

Hujan Pembalut Rindu

Sepi mendekap tubuh ini
Ditemani rintikan hujan yang membasahi
Waktu terus berganti
Kala rindu mendampingi

Walau dirimu jauh bagai di antartika
Namun perasaan ini takan pernah berubah dan akan tetap sama
Hujan dikala senja kali ini seakan melukiskan suatu kenangan
Membuat senyum tergambar rapih mengundang kemesraan

Anggap saja air yang menetes dihujan kali ini adalah rinduku
Rinduku yang tak mungkin sampai kepada tuannya
Retas rindu yang akan terus tumpah tanpa ada yang menandanginya
Seiring awan kelabu
Dan lantunan gemuruh petir yang ikut mewarnai rinduku kali ini

Rindu

Sejak kau lepaskanku
Terpaksa ku naiki rindu
Meski kan menyiksaku
Sedikitpun aku tak ragu
Rindu..

Tak henti ku kayuh
Berdayungkan kesetiaan
Cintaku tetap terjaga utuh
Meski dilanda badai kekecewaan
Rindu..

Kokoh di tengah pilu, yang datang bergemuruh
Aku tak pernah ragu, nanti pasti kan berlabuh

Yang Menanti Hujan

Hari ini hujan datang
Membasuh ragaku yang sedang kelelahan
Hari ini tawaku menghilang
Bersama dia, yang kunanti tetapi tak kunjung datang

Apalah arti penantian ini
Jika untukmu, dunia akan kubuat
Tunduk pada perintahku

Apalah arti sebuah perjuangan ini
Bila untukmu, aku rela mati di tanah
Rantau tempatku berlari mengejarmu
Untukmu, seorang perempuan yang lahir di bulan Februari

Aku berdiri di sini
Ditempat kau pergi
Terakhir kali, berharap kau lekas kembali
Untukmu, sang gadis penyuka senja hari
Aku sedang merintih

Puisi Rindu Singkat Terbaru dan Terbaik

Rindu Bukan Milikmu Saja, Bella

rindu bukan milikmu saja
pejamlah, lihat yang lesat dari mataku
mencerabut denyut hati tanpa permisi
menarik kata dari puisi
hampir-hampir kehilangan arti
dalam ketidakrelaan ketiadaanmu
membilang detik-detik hampa
mengukur waktu kian berdebu
masih dengan rindu yang sama
setiap yang kutemui merupa dirimu
impian utuh memanggil dari jauh
melambai tanpa angin labuh
tersangkut di ujung doa

Menunggu Pulang

pulanglah sayang
hati yang mencintamu menunggumu
bagaimana harus kujelaskan rasanya terbelenggu rindu

jangan tersesat sayang
cinta akan membawamu pulang
tidaklah hatimu merasa sendirian
selalu ada rindu bersamamu

hari-hari tanpamu
separuh aku lepas
memburumu kian kemari
hingga negeri-negeri jauh
beri aku kabar indah dari bukit-bukit Luzern
atau burung-burung kota Milan yang menghampirimu
rindu kita akan terus bersanding

Rindu

Hari sudah berganti lagi
Mendungku masih seperti kemarin
Seperti saat kau tinggal aku sendiri
Tanpa kata pisah kasih
Kurindu langit cerah
Burung-burung terbang diantaranya
Lalu kita menyaksikan
Dibawah pohon cinta berakar kepolosan
Sayang hari-hari baru membawa kita
Dewasa dalam kenaifan dunia
Tak lagi kulihat ketulusan
Hanya alasan-alasan nafsu saja
Kau dan aku tak lagi kita

Kerinduan

Aku titipkan rinduku kepada angin yang berhembus
Yang berlahan menyelusuri malam yang syahdu
Dan ku berharap kau merasakan rinduku

Rujuk dalam Peluk

Ada tenteram mengukir dalam, tatkala dua jasad berrengkuh bersuam.
Tidak menimbul menenggelam, melainkan memilih untuk bersemayam.
Menolak menjelma kelam, tegas bergemerlap lir pualam.

Ada nihil terpatri pada diri, hanya mengisi sekiranya kamu kembali.
Dan kerinduan menari-nari, lekaslah kasih bawa rindumu jua menemani.

Kata-Kata Quotes Tentang Rindu Singkat Terbaik

Langit yang hitam menjatuhkan jutaan pensil padaku, apa yang akan digambar di tubuhku, apakah rindu yang meluncur dari dingin matamu?

Telah kubisikkan namamu pada angin, semoga saja hujan mendengar dan lahir sungai abadi dari rintiknya, mengikis batu-batu dan seribu prasasti tercipta untukmu.

Bulan tenggelam di teluk matamu, aku tak mampu mencegah hatiku, terhanyut ombaknya ke dalam rindu.

Selembar puisi seperti uang kertas, yang merah lebih berharga, tetapi aku hanya bisa membeli rindu dan segelas bayangmu.

Sekalipun nafasku tak cukup panjang, kau akan lihat angin yang membawa daun-daun dari kepingan hatiku.

Tak cukup daun-daun mewakili hembusan angin senja, tak cukup awan lembayung mewakili teduhnya cuaca, ada gemuruh tak ada hujan, siapakah yang dapat mewakili pelukan selain engkau?

Apa lagi selain menggambar rindu, hanya ada pensil hitam dan bayangmu.

Sepasang matamu dan spasi di antaranya, adalah kalimat yang membuat seseorang berhenti bicara, lalu menulis hingga akhir hayatnya.

Di jemarimu yang lentik bagai anak-anak sungai, siapa pun ingin membangun jembatan, jembatan rindu jembatan cinta, apa pun namanya.

Berat menanggung ransel rindu, kudaki tebing terjal hatimu, pelukan ini hanyalah cara … memperkecil jarak yang kutempuh.

Dapatkah aku berhenti bicara tentangmu? bahasa tubuhku tak pernah kehabisan cara, menggambar bayangmu.

Pada pekat kabut kugambar garis partitur, barangkali akan terdengar olehmu sebuah lagu, barangkali akan terdengar olehmu debar jantungku.

Mengingatmu, napasku menerbangkan selembar kertas, sebuah puisi mengapung di udara, sekalipun tak menjelma kupu-kupu, siapa tahu itu akan sampai padamu.

Kau menggambar rindu di bibirku, dan gugurlah semua warna senja di tubuhku.

Kau menjelaskan rindu, tanpa satu pun kata. Irama jantungmu di dadaku, mengganti seluruh suara hujan yang pernah jatuh di sajakku.

Saat malam terlalu sunyi, aku mengumpulkan cahaya bulan yang menempel di kaca, dengan cara seperti itu, jantungku berdebar seakan sedang kusentuh wajahmu. 

Aku menyulam rindu di dadamu, sebab kehangatan bukanlah di ujung kain yang membalut tubuhmu.

Bila daun-daun harus gugur karena cinta, biarlah aku menjadi kelopak-kelopaknya yang tak pernah memejamkan mata.

Ingin kutempatkan jantungku di sudut matamu, agar mudah bagiku selalu jatuh cinta padamu.

Biarkan cahaya bintang menyentuh keningmu, mengantarkan doa-doa heningku, betapa pada angin pun aku berbisik tentangmu.

Cintamu cahaya seluas cakrawala, rinduku setangkai kalbu merekah sebatang kara.

Yang tak pernah lepas dari ingatanku adalah perasaan memandangmu, jantungku kadang berdegup seakan kau duduk di depanku.

Matamu yang sejuk, menempatkan aku di antara gunung, sungai, gua, pantai, dan tebing-tebing terjal yang menjatuhkanku ke dalam rindu.

Tak ada kata yang mati dalam puisi, aku saja yang terkubur kalimat rindu.

Aku telah membelanjakan waktu. Inilah senja, keranjang tempat kukumpulkan rindu.

Keheningan rindu telah melampaui bukit dan lembah, menembus tebing dan kabut, mataku hanya ingin membeku dan abadi di puncak tatapanmu.

Cahaya bulan menerangi laut di pipimu, dan ombak yang berdebar-debar di ujung bibirku, tak mampu menahan hempasan rindu.

Ingin kubaca tiap hempasan ombak, mengapa rindu menentang berhenti dan terus melawan waktu, mengapa laut membentang di dadaku.

Semenit saja memandangmu, pahit luka rindu mengelupas dari bibirku. Semenit saja memejamkan mata, terlelap aku di pelukan senja.

Cintaku mengenal laut di matamu, rinduku mengenal ombak di bibirmu. Lengan-lenganmu sungai, di mana tubuhku selalu hanyut terbawa.

Apakah hujan ikut menanggung rindu. Berkali ia jatuh, di punggung dan dadaku, hanya untuk memelukku.

Aku tergelincir di atas rindu yang membasahi bulu matamu. Bulu mata yang telah ribuan kali berlinang, dalam cinta dan doa.

Di balik kelambu kau selalu mampu menjadi cahaya, yang menuntu rindu, menjauh dari kegelapan dan waktu.

Yang menghidupkan kata cinta, ialah spasi di antara jemarimu, yang memberi ruang bagi hurufku untuk merindukanmu. 

Sesekali pinjamlah rinduku, untuk membakar daun-daun di halaman rumahmu, sesekali kau harus tahu, hangat api yang kuciptakan untukmu.

Aku pejamkan mataku, tak tertembus lampu, kecuali bayangmu.

Hatiku kekasih, setabah asteroid di kegelapan langit, menunggu jatuh menjelma cahaya, di langit matamu yang biru.

Kebahagiaan yang sederhana di balik hujan senja, saat lenganmu melingkari bahu, dan rintik sengaja jatuh dengan suara merdu.

Aku pernah menyembunyikan rindu dalam keremangan senja, tapi senja pun bersembunyi dalam bayangmu.

Kau menitipkan sesuatu pada senja, cahaya yang mencakar langit hingga merah, betapa rindumu sudah semakin parah.

Rindu tak dapat menjamin cintamu. Namun cinta, dapat menjamin rindumu.

Cinta itu ruang, rindu itu waktu. Di sini, kunikmati hangatnya hatimu.

Perbedaan rindu dan jarak, jarak itu ada batasnya.

Yang menghidupkan senja ialah spasi di antara jarimu, yang memberi ruang untuk kugenggam, membisikkan betapa rindu.

Kalau rindu itu datang padaku, waktu pun seketika menjadi tubuhmu.

Di sejuk cahaya malam, ada bintang mengerdip biru, di peluk kehangatanmu ada jantung memekik merdu.

Tiba-tiba embun jatuh saat kubuka halaman buku, seakan ada setangkai bunga tersentuh tanganku, padahal hanya huruf yang menyusun kata rindu.

Sekalipun aku terpejam, aku bisa mendengar gemuruh laut, aku bisa mendengar hempasan demi hempasan ombak menaklukan tebing rindu.

Aku debu, yang menyala saat kau terbakar rindu.

Jangan lepaskan pelukanmu, biarkan napasmu berhembus di dadaku, membawa gemuruh jantungmu dan harum kata-kata rindu di tubuhmu.

Rindu memang samudera biru. Disentuh olehnya, kau tak perlu takut dan ragu. Dihempas olehnya, kau hanya perlu memelukku.

Angin tak bisa mengelabui rindu. Tak kan mampu berdebar seperti jantungku.

Seribu lagu dikicaukan angin senja, tapi kerinduan memiliki senandungnya sendiri, yang hanya bisa kaudengar saat kubisikkan padamu.

Di mataku ada ribuan rindu, ingin menyaksikan hangat senyummu.

Jika rindu itu tuts piano, ada banyak tuts piano di dadaku, menunggu jarimu menyentuhnya merangkai nada, aku akan memejamkan mata senyap dalam gemuruhnya.

Malam ini aku rindu, lembaran kertas seperti jalan lengang tanpa lampu, yang dilalui sendiri huruf-hurufku.

Rindu yang kau lukis di cakrawala, membuat samudera seindah bibirmu, dan ombak mengempas senyap seperti ciumanmu padaku.

Seperti rerumputan: rinduku pasti tumbuh, di gersang ingatan sekalipun, di gurun kenangan apa pun.

Ada yang tak redup setelah senja, saat kau hempaskan tubuhmu pada cuaca. Hujan di balik kelambu, gemuruhnya bisa seindah itu.

Izinkan kucumbu setiap rindu di sudut bibirmu, di sudut-sudut yang menanggung kesunyianmu, mari kupeluk, agar tangismu cukup aku yang memilikinya.

Bukalah jendela dan biarkan angin mengecup lembut keningmu, meletakkan napasku di celah rambutmu. Biarkan dadaku memelukmu, sebab ia datang hanya untuk mencintaimu.

Pinjamkan matamu pada langit, agar setiap malam aku tak kehilangan cahaya. Agar setelah matahari terbenam, aku masih bisa bahagia memandang cakrawala.

Bisakah aku tertidur dengan dada tertindih rindu, bisakah api padam di mataku, sedang bagiku betapa indahnya mengingatmu.

Dadaku bergetar kedinginan karena membawa seluruh rindu, maka kusibukkan diri menyalakan api, berharap menjelma tubuhmu.

Di ufuk senja di kotamu, biarkan saja terbenam matahari. Di pelupuk mata puisimu, bolehkah aku menenggelamkan diri?

Wajah ayu, tahukah rasanya merindukanmu? Tubuh ini seperti jadi tebu, di luar kaku, di dalam penuh kenangan manis denganmu.

Kau ingin mengambil rindu yang ada di mataku? Kecup bibirku dan ia akan jatuh begitu saja di bibirmu.

Kadang kugambar wajahmu dan aku jadi rindu. Kadang aku rindu dan kugambar jadi wajahmu.

Tak ada bedanya detik, menit, ataupun jam
Tak ada bedanya matahari terbit dan tenggelam
Tak ada bedanya bila semua berganti
Karena tetap sama kau tak ada disini

Merah yang membasahi bibirmu bukanlah gincu, tetapi gerimis yang tak mampu menulis rindu.

Aku melangkah menyeret rindu, menyelinap di antara kabut yang menyelimuti tubuhmu.

Kata-kata membuat sarang di rambutku, membawa ranting-rantingnya ke dalam pikiranku, ketika aku rindu, sebuah sajak lahir di situ.

Kau tak dapat menghitung ranting rindu di dadaku, lihatlah burung-burung yang riuh berterbangan ketika pelukanmu datang.

Dadaku rimba, sebab ada yang selalu berkicau merdu di dalamnya, di antara pohon-pohon rindu yang tak bisa kusebutkan satu-satu.

Aku tak ingin menafsirkan kata-kata di matamu, memandangmu saja semua rindu menjadi abu.

Matamu mata air, sebening-bening mata yang mampu memadamkan api rindu.

Rinduku yang tertinggal, kaujadikan kancing di bajumu. Kini, lepaskan kancing itu dan tanggalkan rindu.

Andai padamu aku bisa bertanya, mengapa langit yang luas tak dapat menahan hujan jatuh, lalu bagaimana aku mampu menahan rindu?

Aku tak bisa menceritakan rindu, tanpa menatap langit matamu, yang tenggelam perlahan ke dalam kalbu.

Rindu ialah rahmat, langit paling luas, di dalamnya angin dan gerimis, juga senyum manismu, menaburkan serbuk cinta pada kelopak mataku.

Ketika senja mengganti cakrawala, dari jauh kaupendarkan rindu, dan malam mengantarku pada cahaya di antara kedua matamu.

Aku memeluk harum tubuhmu, kau melepas penatku dalam rindu.

Mungkin cinta sembunyi di balik lenganmu, yang kaulukiskan dengan sabar, dalam kebaikanmu, yang kaudekapkan dalam debar, kerinduanmu.

Puisi ini cuma perahu di tengah samudera kecintaanku padamu.

Aku mengenal baik gerimis yang mencium tubuhku, aku kira kau jugalah angin itu, menangis di rambutku membisikkan betapa rindu.

Sepagi rindu diucapkan waktu, ada guguran embun di pintu, mengetuk subuhmu, lirih menyebut namamu.

Serintik apapun hujan pastilah membawa rindu, kusediakan tempat untukmu, dan kau akan datang sayup-sayup di hatiku.

Puisi rindu Islami
Dalam diam
doa-doaku tak pernah diam,
padamu.

Malam dingin,
sedingin munajatku yang tak banyak ingin,
sediam doaku yang tak lagi seriuh angina.

Suara penyeru menyibak langit
Embun embun pilu berjatuhan
Menciumi dedaunan tanpa keegoan
Bergegaslah..keabadian menunggu jiwamu
Diatas sajadah labuhkanlah cintamu.

Pertemuan di langit tinggi dengan doa doa terbaik sejatinya lebih membahagiakan hati.

Disamudera Al Ikhlas
Aku tenggelam dalam cintaMu.

Disetiap helai senja
Selalu ada doa yang ku langitkan dengan purna
Perihal siapa.. biarlah Allah Yang Maha cinta tunjukkan alamatnya
Ditiap helai usia Ada asa yang menjuntai dari perwujudan doa
Dan bahagia adalah amin yang tak lagi rahasia.

Kun fayakun
Aku rela segala takdirMu
Aku ikhlas apapun titahMu
Sebab aku yakin apapun kehendakMu
Adalah terbaik untuk ruang dan waktuku.

Ada yang lupa kusebut dalam doa
Tentang ego yang masih meraja di jiwa
Menjadi tabir tebal di pelupuk mata
Menutup rasa dengan segala asa.

Sabarlah kawan
Cobaan adalah kemuliaan
Ujian adalah cinta
Tuhan yang tertuang
Bagai hujan di kemarau panjang
Kelak kau akan mengerti
Setiap takdir adalah kenikmatan
Setiap titah adalah jatah terindah.

Bersama angin
Kutafakkuri segala yang kuingin
Allahku, Aku hamba yang dzalim.

Angin rindu berhembus di sajadah
Membelai wajah cinta tak sudah-sudah
Aku ingin segera berangkat hijrah
Menemui-Nya dalam bingkai pasrah.

Tentang sepi,
kelak kita akan sendiri menghadap Rabbi,
memeluk sepi sepanjang hari.

Allahu, rindu pada-Mu tak pernah jemu.

Ketika cinta tak lagi tahu maknanya
Dan rindu berbayang tak jelas tujuannya
Kembalilah pada-Nya… tanyakan setiap inci arah berlabuh
Tuhan pemilik sebaik-baik tempat berteduh.

Aku ingin rinduku ini tak habis habis
Kepada-Mu.. penguasa cinta dari segala lapis.

Nanti akan aku ceritakan padamu,
tentang penantian yang tak kenal akhir waktu,
sebab cinta bukan soal kapan,
tapi ketika Tuhan sudah menetapkan.

Di munajatku yang gagu
Ku tangkap sebilah rindu
Ada doa terserak di wajahku
Aku tertampar dosa-dosaku.

Puisi rindu yang mendalam ©rimiracle.com

Di tubuhku, ada cuaca yang disebut rindu, bergemuruh menyala menyambar, lalu dengan lembut terpejam memelukmu.

Terlalu banyak kureguk laut, perahu-perahu terjebak ke dalam jantungku, aku diam sekaligus tenggelam, tersedak rindu.

Ribuan sajak akan terus memanggilmu, ribuan ombak menggerus waktu, serius memahatmu pada tebing rindu.

Apa yang kaupagut dari bibirku hanya lembut ombak, rinduku gemuruh lautan yang menghempas ke hatimu.

Pada ranting patah mungkin tumbuh cabang baru, pada pelukanku kau tak perlu ragu, setiap bentangnya adalah debar, ranum dalam rindu.

Seolah cuaca mengubahmu jadi gerimis, yang jatuh ke dalam mimpiku.

Mataku tak pernah kehilangan bayangmu, saat terpejam, diam-diam mengucap rindu.

Aku ilalang yang ingin tumbuh di tepian matamu, aku tak ingin jadi tangkai rindu yang patah menahan waktu.

Rindu memang api biru. Menyentuhnya, kau tak perlu takut dan ragu. Sebab hanya sehangat kuku.

Di hatiku, apa yang tidak menjadi patah? Semua jatuh menuju senja, mengira kau selalu di sana.

Di langitku yang tersisa siluet rambutmu, senja tertimbun bulu mataku, yang gugur karena kecintaannya padamu.

Embun di kaca, seperti tak bosan-bosannya menulis rindu, meninggalkan ribuan huruf, yang menetes lembut ke dada.

Biarkan aku kuyup dalam rintih embunmu, hanyut ke dalam urat-urat daun, di lebatnya rimba rindu.

Langit dipenuhi kerling matamu, memanggilku di lengang yang jauh, di rindu yang tak tersentuh waktu.
Terlalu sulit untuk terpejam, kelopak mata seperti sebuah pintu, yang berderit saat datang bayangmu.

Barangkali engkau memang hujan yang kutunggu. Memandang matamu, terasa begitu deras sesuatu menghujam kalbu.

Di matamu, apa sih yang tak fatal bagiku? Sekali kaukerdipkan, rindu meledak di dalam kalbu.

Aku tak bisa berpaling, hujan selalu jatuh tepat di mataku, mengantar bayangmu, membasuh rindu.

Puisi rindu yang terpendam ©liandamarta.com

Seandainya, aku dapat menukar rindu dengan waktu, maka kupilih pelukanmu.

Senja yang lebam itu: aku, seharian dipukul hujan dan rindu.

Aku suka memandangmu, seperti membaca buku, sampulnya kelopak matamu, yang perlahan membuka seribu halaman rindu.

Kau pun kembali sebagai rindu, guguran salju di celah bibirku, memperjelas ketiadaanmu.

Benarkah yang mengetuk pintu jantungmu? Tapi kutahu suara itu hanya ada dalam kalimat rindu.

Angin menggugurkan embun, menjatuhkannya di pintu, kucoba melihatnya yang ada hanyalah pendar rindu.

Aku memandang hujan, mendengarkan sebuah lagu. Mengapa rintik itu lebih merdu, saat kusebut namamu?

Mendung seperti cahaya di dalam kamar, dan kita tak sadar, gemuruh hujan itu bukan di luar, tapi di dalam dada kita yang berdebar.

Aku belajar pada embun, bagaimana mengecup bunga tanpa menjatuhkannya, tapi justru membiarkan dirinya yang jatuh.

Bagaimana aku terpejam, bayangmu memecut mataku dari jam ke jam, siapa bilang rindu tidak kejam, jika jatung ini terus dirajam.

Laut tak mau menanggung rindu, dan hanya aku yang tahu, pelukanmu sanggup menampung ribuan ombak, yang menghantam dadaku.

Karena kau memandangku, debu-debu menjadi cahaya. Karena kau tersenyum tanpa ragu, rinduku menggebu-gebu dalam gelap cuaca.

Ombak mengetik rindu di hamparan pantaiku, aku lihat perahu, namun tiada yang datang selain bayangmu.

Gemuruh ombak bagai gergaji membelah dada, menggenangi seluruh waktu, menghempaskan sukma ke dalam hamparan rindu.

Hembusan angin membawa rinduku ke cakrawala, langit jadi kelabu, menggambar beribu bayangmu.

Andaisaja kupu-kupu seindah kelopak matamu, bisakah juga berkedip membisikkan rindu?

Kau bertanya arti pelukan; andai kau tahu apa yang menyala dalam kalbu, tak semestinya kau kedinginan dalam rindu.

Aku merawat rindu dengan terus menulis sajak, dengan kata-kata yang tak menyerah pada waktu, yang tak lelah menempuh jarak.

Puisi rindu kekasih yang jauh
Puisi rindu kekasih yang jauh
Bila rindu laut, akan aku kunjungi matamu, menatapmu lama-lama, merasakan ribuan ombak mengempas dada, sebelum kuceburkan diriku.

Rindumu hanya bisa kembali ke dalam rusukku, sebab ada cinta yang selalu menunggu, di balik bilik jantungku.

Cukup pelukanmu mewakili samudera, merubuhkan tubuhku, merebahkan keluh dan rindu, tenggelam dalam suara laut di jantungmu.

Pernah satu bintang terbakar rindu, seribu serpihan berderaian di mataku, seolah tahu sudut-sudut tempat bayangmu.

Malam tak dapat merahasiakan rindu, selalu ada nyala yang menggoreskan warna pada wajahmu.

Aku menyukai ranum bibirmu, mawar merekah di sudut-sudutnya dan sudah tentu segala puisi tumbuh di sana.

Ajari aku membaca aksara yang tak terjangkau rindu. Mataku rabun, tetapi suaramu terdengar dalam gema yang merdu.

Menggenggam tanganmu seperti menggenggam buku, sebuah buku dengan kehangatan yang tak pernah selesai menceritakan rindu.

Tak ada yang dapat menyembunyikan cahaya, ia selalu mencari atau mencarik celah, seperti rindu, yang membuat dada terbelah.

Kupetik semua bintang itu. Agar tumbuh kerdip baru, kerdip matamu, kerdip yang cuma tumbuh di dalam rindu.

Malam merebut sajak, angin merobek suaraku, mungkin aku tak lagi terdengar, tapi rindu ini terus berdebar melampaui kata-kata.

Malam menuntun bayangmu padaku, yang kukira helai-helai rambutmu, nyatanya hanya untaian bait puisi rindu.

Aku tak cemas pada hujan, sebab bagian paling deras adalah rindu, semua bermuara di parasku, melingkarkan nafasnya yang lembut memburu.

Di celah cinta dan rindu, akan ada badai dan cuaca tak tentu, tutuplah pintu, sebelum aku kaukunci di dalam hatimu.

Jika hujan tak menetes padaku maka hanya ada kertas yang terbakar rindu, tanganku yang tak letih menggambar hanya mendapatkan bayangmu.

Gerimis yang jatuh di kaca, hati-hati meletakkan bayangmu. Aku mengecup kaca itu, merasakan sejuknya rindu menitik kalbu.

Puisi rindu dan hujan
Hujan telah usai. Di jalan yang pernah kita lalui bersama, genangan memantulkan cahaya lampu. Aku satu-satunya pejalan yang melihat bayangmu.

Apakah yang dikabarkan hujan padaku? Jika rindu yang ia jatuhkan pada punggungku, aku pasti berbalik memeluk seluruh rintiknya.

Gerimis ini menghiburku, lembutnya seperti kugenggam jarimu, basahnya seperti kusentuh bibirmu.

Hujan menjelang malam dan bulan ikut berguguran dalam rintiknya, cahaya-cahaya bersentuhan lembut dengan senyummu.

Tanganmu menggenggam tanganku, memecahkan segelas rindu, membebaskan pasir dari gelas waktu, debar jantungmu menggelegar seperti merapi yang menjadi hujan abu di tubuhku.

Gerimis yang mengetuk kaca itu, biarkan melemparkan butirnya di kamarmu, menjatuhkah rinduku di tempat yang tak terjangkau air mataku.

Mengapa senja meninggalkan jendela, membiarkan gerimis jatuh di kaca, hanya untuk memantulkan bayangmu?

Ranting-ranting flamboyan itu, sungguh bagai bulu matamu, menahan hujan dan menjadikannya gerimis, mengubah terik matahari menjadi tatapan teduh.

Mestinya tak perlu kucemaskan matahari. Ada kerling hujan, di antara bulu mata senja. Tetapi haruskah hanya rindu, kata-kata yang dipilih cuaca?

Hujankah itu? jika pada tiap rintiknya, bibirmu terasa menyentuhku, terasa kau berbisik padaku.

Kukecup keningmu dengan lembut, seperti angin mengecup langit, menjatuhkan butir-butir gerimisnya, mengisi spasi di antara kelopak bunga.

Sekalipun pagi dihajar hujan, yang paling menggetarkan tetaplah embun di matamu.

Jika kau gerimis, pagutkan rintikmu pada hening bibirku, jika kau hujan, tautkan dadaku dalam gemuruhmu. Tak perlu kau teriakkan rindu, lembut saja, seperti jantungku menyebut namamu.

Seperti bola matamu, langit hitam kelabu teduh memandangku, menjatuhkan seluruh hujannya padaku.

Engkau mata berkerudung rindu, tempat kutemukan bening air hujan, yang memantul kembali ke langit, sebagai doa.

Kau telah menjadi nada sebelum aku mengenal bunyi, yang menuntunku pada suara hujan, jauh sebelum ia jatuh.

Andai kau tahu, aku jatuh berkali-kali, seperti hujan, seperti embun, menjadi titik-titik yang membentuk huruf di bibirmu.

Embun, hujan bahkan laut bersedia menjadi tinta, saat kutuliskan kalimat cinta di bibirmu.

Tak henti-hentinya hujan menembakkan rindu, sesekali terdengar ledakan saat aku mengecupmu.

Setetes apapun hujan pastilah membawa rindu, kusediakan tempat untukmu, sekalipun sayup-sayup kau datang menjenguk hatiku. 
Itulah diatas tentang puisi rindu singkat yang bisa kamu jadikan pesan kepada kekasih yang dari jarak jauh. Semoga dengan memberikan kata puisi rindu singkat romantis ini bisa menjadikan hubunganmu menjadi lebih awet dan langgeng. Tunggu artikel yang membahas tentang sastra lainnya hanya di MasIrfun.com

MasIrfun
MasIrfun  Seorang blogger pemula yang ingin memberikan informasi, edukasi, dan review gadget terupdate
Note: Only a member of this blog may post a comment.