Cerpen Singkat MasIrfun #1

Advertisement

Cerpen Singkat MasIrfun #1

Tuesday, April 2, 2019

Aisyah Asali Putri namanya, nama yang sangat indah dan sama halnya dengan paras cantik sesuai dengan namanya. Aisyah merupakan salah satu anak dari orang tua Mustofa dan Putri yang menjadi satu-satunya di waktu 18 tahun yang lalu. Kehadiran Aisyah sangat dinantikan oleh keluarga, apalagi dengan kedua orang tuanya.



Hal tersebut karena orang tuanya mempunyai 3 anak putra dan sampai sekarang belum mempunyai anak putri. Aisyah tidak hanya terkenal dengan paras yang canti saja, namun dia juga merupakan seorang anak yang sholeha taat beragama. Semuanya tentu tidak luput dari didikan dari Mustofa dan Putri yang merupakan orang tua dari Aisyah.

Dalam kehidupan mereka dikenalkan agama sejak dini yang sampai sekarang terbiasa dengan lingkungan yang berbau religius. Suatu pagi ibunda Aisya membuka percakapan.

“Dzikir paginya sudah Ai?” Ucap bunda Aisyah di pagi hari ( Sambil menyiapkan makanan bekal Aisyah).
“Udah kok bun” Jawab Aisyah sambil menganggukan kepala.

Setelah selesai semuanya, Aisyah memasukan makanan yang sudah disiapkan bekal makanan untuk di sekolah. Kemudian dia menyalimi dan berpamitan kepada ibu dan ayahnya yang sedang berada di ruang makan.

“Aisyah berangkat dulu ya ayah, Assalamualaikum..” Ucap Aisyah berpamitan kepada Mustofa.
Waalaikumsalam..” Jawab singkat Mustofa.

Aisyah melanjutkan langkah kakikan untuk meninggalkan ruang makan, namun dalam beberapa langkah terdengar jerikan bunda memanggil dia.

“Hati-hati Ai, bilang tuh sama kakakmu untuk tidak ngebut bawa motornya.”
“Iya bunda, iyaa..” Sahut Aisyah seraya tetap berjalan menuju ke halaman luar.

Berangkatlah Aisyah ke Sekolah Menengah Kejuruan, namun di pertengahan jalan dia berpapasan dengan seorang yang menyukainya. Dengan pura-pura tidak tahu, dia tancap gass motor menyalip seorang laki-laki yang santai dalam berkendara itu. Walaupun begitu, Aisyah mengintip lewat spion untuk melihat wajah laki-laki tersebut.

Sesampainya di depan gerbang menuju parkiran sekolah, entah kenapa Aisyah terlihat agak aneh dan gugup dalam meuntun sepedanya. DIbelakang Aisyah ada seorang lak-laki yang menyukai dirinya, itulah mungkin sebabnya membuat dia agak aneh. Akan tetapi laki-laki ini tidak kunjung mendekati ataupun menyalip Aisyah, justru malah melihat wayah Aisyah lewat spionnya.

Saat tepat Aisyah memarkirkan sepeda motornya, laki-laki itu lewat di depannya. Namun, laki-laki itu hanya tunduk dan tersipu malu bila melihat wajah manis berparas cantik. Sebaliknya, berbeda dengan Aisyah yang serasa tidak ada apa-apa saat lewat di depan laki-laki itu. Bahkan, dia bersikap dan bertingkah seperti anak kecil yang berjalan dengan mengayunkan kedua tangannya.

Laki-laki misterius ini ternyata bernama Gilang, dimana dia adalah anak jurusan sebelah yang memendam rasa pada Aisyah. Namun, dia tidak berani mengungkapkan semua rasa kepada Aisyah. Pasalnya, dia minder apabila mendekati wanita yang super sholeha dan berparas cantik itu.

Gilang minder karena paras wajah yang tidak terlalu tampan rupawan yang diidamkan oleh wanita manapun. Apalagi Aisyah adalah anak yang begitu religius, hal tersebut membuat Gilang untuk berfikir dua kali apabila mendekati Aisyah. Karena menurut Gilang itu berbanding terbalik, dimana Gilang yang tidak pandai sama sekali dengan agama dan sedangkan Aisyah merupakan seseorang wanita yang sholeha dimatanya.

Suatu hari Gilang melihat Aisyah mengikuti ekstrakulikuler yang ada di SMK Menengah Kejuruan Jombang, Jawa Timur. Tidak hanya aktif dalam Ekstrakurikuler saja, namun Aisyah juga ikut serta dalam Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Gilang hanya diam-diam memperhatikan dari kejauhan dan memendam semuanya hanya dalam hati.

Suatu saat Gilang mempunyai rencana untuk mengikuti OSIS, meskipun saat itu Gilang bisa dibilang sudah telah dalam mengikuti organisasi tersebut. Tetapi hal itu tetap dilakukannya agar bisa dekat dengan Aisyah yang berparas manis nan cantik itu. Sudah masuklah Gilang langsung dijadikan senior bersama se-pantaran dengan Aisyah.

Aisyah saat itu belum menyadari kalau Gilang mempunyai rasa terpendam. Dia hanya bersikap biasa saja dan tegas seperti biasa saat melatih adek-adek junior. Hal tersebut membuat Gilang semakin kagum akan sosok Aisyah yang tidak hanya sholeha saja, namun tegas dan sangat aktif dalam organisasi itu.